Suku Sakai Serukan Keadilan: “Tanah Kami Diserobot, Penegak Hukum Jangan Diam!”
Duri-Ketegangan mulai terasa di wilayah adat Suku Sakai, Duri, Riau. Masyarakat adat yang selama ini hidup damai di atas tanah warisan leluhur kini merasa terusik. Puluhan hektare lahan yang selama ini mereka jaga dengan penuh hormat, diklaim secara sepihak oleh pihak-pihak yang disebut berasal dari luar daerah.
Tokoh masyarakat Suku Sakai, Reno, dengan nada tegas menyampaikan kekecewaannya. “Kami heran, tiba-tiba saja ada orang luar datang, mengaku punya lahan puluhan hektare. Dari mana dapatnya? Siapa yang kasih izin masuk ke kampung kami? Aneh dan sangat janggal,” ujarnya kepada wartawan, Rabu malam (27/8).
Reno menjelaskan bahwa masyarakat Suku Sakai bukan hanya menjaga tanah itu sebagai tempat tinggal dan penghidupan, tetapi juga sebagai bagian dari identitas dan budaya mereka. Ia menilai, penguasaan lahan oleh pihak asing berpotensi memicu konflik sosial jika tidak segera ditangani secara hukum.
“Kami punya bukti, surat, dan petunjuk kuat bahwa tanah ini milik kami. Kami tidak sedang mengklaim sembarangan. Ini tanah adat, warisan nenek moyang kami,” lanjut Reno.
Pihak adat mendesak Aparat Penegak Hukum (APH) untuk bergerak cepat sebelum konflik horizontal meledak. Reno bahkan mengungkapkan bahwa pihaknya berencana mengirim surat langsung kepada Presiden Prabowo Subianto untuk meminta perhatian khusus dari pemerintah pusat.
“Kami tak ingin pertikaian ini meluas menjadi konflik antarsuku atau bahkan antarumat beragama. Tapi jika dibiarkan, percikan kecil ini bisa jadi bara api. Kami sudah melihat ada narasi adu domba yang dimainkan oleh oknum tertentu,” tegasnya.
Lebih jauh, masyarakat adat meminta agar segera dilakukan pendataan ulang terhadap warga yang tinggal dan menggarap lahan di kawasan D-30, wilayah yang menurut mereka paling terdampak. Mereka mencurigai adanya pemanfaatan celah hukum oleh pihak luar yang berdomisili di luar Riau, namun tiba-tiba memiliki lahan dalam jumlah besar di kampung adat Sakai.
“Mereka wajib angkat kaki dari tanah kami. Tidak ada kompromi untuk perampas tanah adat,” pungkas Reno.
Sampai saat ini, belum ada klarifikasi resmi dari pihak-pihak yang dituduh telah menguasai lahan tersebut. Namun masyarakat adat Suku Sakai menegaskan, perjuangan mereka baru saja dimulai — dan kali ini, mereka tak akan diam.











