Ketua DPD APDESI Riau Zulfahrianto: Figur yang Menggerakkan Desa, Menghidupkan Pendidikan
Rokan Hulu — Tak banyak tokoh daerah yang memilih berjalan melawan arus. Di Bonai Darussalam, satu nama menonjol bukan karena jabatan atau kekuasaan, melainkan karena keberanian mengambil tanggung jawab yang sesungguhnya bukan miliknya: Zulfahrianto SE.
Selama bertahun-tahun, ia menjadi “penopang sunyi” pendidikan di Bonai Darussalam. Dengan dana pribadi, ia membayar guru, membangun ruang kelas, menghibahkan tanah, hingga menjadi donatur tunggal sebuah acara pendidikan berskala kabupaten. Ketika negara belum sepenuhnya hadir, justru masyarakat menemukan figur yang memilih hadir tanpa syarat.
Membayar Gaji Guru Honorer Saat Sekolah Hampir Lumpuh
Kekurangan guru honorer dan keterbatasan dana BOS membuat sejumlah sekolah di Bonai Darussalam sempat berada di titik rawan.
Di tengah kecemasan itu, satu keputusan berani diambil.
Zulfahrianto secara rutin membiayai gaji guru honorer di seluruh SD, SMP, hingga SMA se-Kecamatan Bonai Darussalam.
Tidak sekali dua kali. Tidak hanya saat sorotan datang. Tetapi berbulan-bulan, bertahun-tahun.
“Kalau kelas tidak ada guru, anak-anak kita kehilangan masa depannya,” begitu ia pernah berkata. Pernyataan sederhana, tapi dampaknya menggema hingga ruang-ruang kelas yang kembali hidup.
Rogoh Kocek Pribadi Bangun Kelas SMAN 1 dan SMPN 01 Bonai Darussalam
Ketika atap sekolah bocor dan ruang kelas tak lagi layak digunakan, banyak pihak memilih menunggu anggaran turun.
Zulfahrianto tidak.
Ia membangun ruang kelas SMAN 1 Bonai Darussalam dari uang pribadinya.
Ia juga mendorong pembangunan SMPN 01 Bonai Darussalam, memastikan anak-anak tidak belajar berdesakan atau menumpang.
Sikapnya mengingatkan bahwa pembangunan bukan hanya soal proyek, tetapi soal keberanian memastikan anak-anak hari ini bisa tumbuh lebih baik dari generasinya.
Hibahkan Tanah 2 Hektare dan Tukar Guling Gedung Kordikcam
Pengabdiannya tidak berhenti pada yang tampak.
Untuk kebutuhan jangka panjang pendidikan, Zulfahrianto menghibahkan tanah milik pribadi seluas 2 hektare.
Bukan itu saja: ia membiayai tukar guling gedung kordikcam Bonai Darussalam, langkah yang biasanya dilakukan pemerintah daerah. Namun ia mengambil peran itu karena melihat urgensi pelayanan pendidikan yang lebih teratur dan efektif.
Keputusan-keputusannya mematahkan jarak antara niat dan tindakan.
Donatur Tunggal HUT PGRI ke-80: Rp 450 Juta Tanpa Syarat
Dalam peringatan HUT PGRI ke-80 Tingkat Kabupaten Rokan Hulu di Sontang, Zulfahrianto kembali membuat banyak orang terdiam.
Ia menjadi donatur tunggal, menyumbang Rp 450 juta dari dana pribadi untuk menyukseskan acara guru-guru se-Rokan Hulu.
Tidak ada plang nama, tidak ada kampanye personal.
Hanya satu kalimat yang ia sampaikan:
“Ini hari guru. Mereka pejuang masa depan.
Dianugerahi Penghargaan Tokoh Pemerhati Pendidikan
Atas kontribusinya yang konsisten dan berdampak nyata, Zulfahrianto menerima Penghargaan sebagai Tokoh Pemerhati Pendidikan Kecamatan Bonai Darussalam.
Penghargaan itu bukan sekadar simbol; ia mencerminkan realitas sebuah wilayah yang merasakan benar kehadiran seorang warga yang bekerja melampaui batas.
Penutup: Ketika Kepedulian Melampaui Kebijakan
Di banyak tempat, perubahan besar menunggu anggaran besar.
Di Bonai Darussalam, perubahan datang dari seorang warga yang percaya bahwa pendidikan tidak boleh menunggu.
Nama Zulfahrianto mungkin tak selalu tampil di panggung politik, namun kontribusinya sudah lama berdiri di panggung yang jauh lebih penting: panggung masa depan anak-anak Bonai Darussalam.
(R2/Rambe)











